Tag

, , ,

Pagi itu Sarah sudah rapi. Selesai sarapan, ia segera ke ruang depan memakai sepatunya. Ismail, adik laki-laki Sarah menghampirinya. “Hari Sabtu ini kakak mau pergi kemana?” tanya Ismail. Ke sekolah, ada kegiatan PTQPI,” jawab Sarah. “Apa itu PTQPI kak?” tanya Ismail. PTPQI itu singkatan dari pembelajaran tahfidzul quran dan pengetahuan islam, itu adalah kegiatan di sekolah kita, setiap hari Sabtu, kamu akan mengikuti kegiatan ini ketika kamu kelas 4.” jawab Sarah. Sarah menunggu jemputannya. “Memang, apa saja kegiatan PTQPI kak?” tanya Ismail. “Kegiatannya menambah hafalan sebanyak-banyaknya, muroja’ah, tilawah, mengenal pengetahuan islam, menghafal hadist, kegiatannya dari jam 09.00 sampai 16.00.” jawab Sarah. “oh begitu ya kak.” kata Ismail. “dek, sudah dulu ya, itu sudah ada jemputan, jangan lupa ajak dek Muhammad dan dek Fatimah.” nasehat Sarah. “Iya kak” jawab Ismail. Jam 16.30…. “Assalamu’alaikum” kata kakak. “Wa’alaikumussalam” jawab abi dan umi. “Kak, ganti baju aja ya, lagi hujan, terus temenin adek-adek di ruang bermain.” kata Umi. “iya mi.” jawab Sarah. Setelah mengganti baju… “Assalmu’alaikum adik-adikku.” kata Sarah. “Wa’alaikumussalam.” jawab adik-adik Sarah. “Kakak tadi belajar apa?” tanya Ismail. “Oke, sekarang kakak mau cerita tentang nabi Ayyub.” kata Sarah “Iya, iya mau.” kata Fatimah. “Ayyubalaihis salam adalah seorang nabi yang mulia yang nasabnya sampai kepada Nabi Ibrahimalaihis salam. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, Dan kepada sebagian dari keturunannya (Ibrahim) Yaitu Dawud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al An’aam: 84) Sebelumnya Nabi Ayyub memiliki harta yang banyak dengan bermacam jenisnya, seperti: hewan ternak, budak, dan tanah. Ia juga memiliki istri yang saleh dan keturunan yang baik. Allah Subhanahu wa Ta’ala ingin mengujinya, dan Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka, barangsiapa yang ridha dengan ujian tersebut, maka dia mendapatkan keridhaan-Nya dan barangsiapa yang marah terhadap ujian tersebut, maka dia mendapatkan kemurkaan-Nya (sebagaimana dalam hadis yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 2110). Ayyub adalah orang yang sabar dalam menghadapi ujian tersebut, hartanya yang banyak habis, anak-anaknya meninggal dunia, semua ternaknya binasa, dan Nabi Ayyubalaihis salam sendiri menderita penyakit yang sangat berat, tidak ada satu pun dari anggota badannya kecuali terkena penyakit selain hati dan lisannya yang ia gunakan untuk berdzikir kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dalam menghadapi musibah itu, ia tetap bersabar dan mengharap pahala, serta berdzikir di malam dan siang, pagi dan petang. Hari pun berlalu, namun tidaklah berlalu hari itu kecuali penderitaan Ayyub semakin berat, dan saat penderitaan yang dialaminya semakin berat, maka kerabatnya menjauhinya, demikian pula kawan-kawannya, tinggallah istrinya yang sabar mengurusnya dan memenuhi haknya. Istrinya terus mengurusnya, dan memenuhi keperluannya, sampai ia rela bekerja dengan upah tidak seberapa untuk menafkahi suaminya. Ayyub terus merasakan sakitnya, namun ia tetap sabar sambil mengharap pahala dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, memuji-Nya dan bersyukur kepada-Nya, sehingga jadilah Ayyub sebagai imam dan teladan dalam kesabaran. Abu Ya’la dan Al Bazzar meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,). Sesungguhnya Nabi Allah Ayyub mendapat cobaan selama delapan belas tahun, sehingga orang dekat dan jauhnya menjauhinya selain dua orang saudara akrabnya yang sering menjenguk di pagi dan sore. Lalu salah satunya berkata kepada yang lain, “Engkau tahu, demi Allah, dia telah melakukan dosa yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun.” Kawannya berkata, “Dosa apa itu?” Ia menjawab, “Sudah delapan belas tahun Allah tidak merahmatinya dengan menghilangkan cobaan itu.” Saat keduanya menjenguknya di sore hari, maka salah satunya tidak sabar sehingga menyampaikan masalah itu kepadanya. Ayyub berkata, “Aku tidak tahu apa yang kamu katakan, hanya saja Allah mengetahui bahwa aku pernah melewati dua orang laki-laki yang bertengkar, lalu keduanya menyebut nama Allah, kemudian aku pulang ke rumahku dan membayarkan kaffarat untuk keduanya karena aku tidak suka kedua orang itu menyebut nama Allah untuk yang tidak hak.” Beliau juga bersabda, “Nabi Ayyub keluar jika hendak buang hajat. Apabila ia telah selesai buang hajat, maka istrinya menuntunnya sampai ke tempat buang hajat. Suatu hari Nabi Ayyub terlambat dari istrinya, dan diwahyukan kepada Nabi Ayyub di tempatnya, “Hantamkanlah kakimu, inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum.”(QS. Shaad: 42) Istrinya menunggunya cukup lama, dia menjumpai Ayyub sambil memperhatikannya sedang berjalan ke arahnya, sementara Allah telah menghilangkan penyakitnya, dan Nabi Ayyub dalam keadaan lebih tampan daripada sebelumnya. Saat istrinya melihat, istrinya langsung berkata, “Semoga Allah memberkahimu, apakah engkau melihat Nabi Allah yang sedang diuji ini? Demi Allah, aku tidak melihat seorang pun yang lebih mirip ketika sehat daripada kamu?” Ayyub menjawab, “Akulah orangnya.” Ayyub memiliki dua tumpukan gandum, yang satu untuk gandum dan yang satu lagi untuk jewawut, lalu Allah mengirimkan dua awan. Saat salah satu dari awan itu berada di atas tumpukan gandum, awan itu menumpahkan emas sehingga melimpah ruah, sedangkan awan yang satu lagi menumpahkan perak ke tumpukan jewawut sehingga melimpah ruah.” (Al Haitsamiy berkata, “Diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan Al Bazzar. Para perawi Al Bazzar adalah para perawi hadis shahih.” Hadis ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Ash Shahiihah,1:25)” cerita Sarah. “Panjang banget kak” kata semua adik-adik Sarah. “Iya, makanya kita harus sabar.” kata Sarah. “ OKKKKK!!” kata Semua adik-adik Sarah.

sumber kisah nabi ayyub: http://kisahmuslim.com/kisah-nabi-ayyub-alaihis-salam/

Iklan